Home > Taushiah Abina > Ahlussunnah Menjawab Terorisme, Radikalisme dan Fundamentalisme

Ahlussunnah Menjawab Terorisme, Radikalisme dan Fundamentalisme

Sebagai satu-satunya agama yang diridhoi oleh Allah, Islam juga sekaligus memperoleh fasilitas khusus berupa penjagaan dariNya secara terus menerus dan tidak pernah terputus. Satu penjagaan terhenti segera diganti dengan penjagaan berikutnya semenjak dimulainya kehidupan manusia di bumi ini sampai kelak datangnya hari kiamat.
Model penjagaan Allah tersebut terbagi dalam beberapa periode:

a) Periode Para Nabi alaihimusshalaatu wassalaam dari Nabi Adam hingga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam..
b) Otensitas Alqur’an dan Hadits yang senantiasa terjaga dan terpelihara
c) Para Ulama sebagai Pewaris Para Nabi. Dalam periode inipun setiap seratus tahun sekali Allah senantiasa memunculkan seorang ulama yang mampu tampil sebagai tokoh pembaharu dan menggairahkan kembali kehidupan Islam. Inilah statement yang pernah dilontarkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

إِنَّ اللهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ اْلأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِيْنَهَا
“Sesungguhnya Allah senantiasa akan membangkitkan untuk umat ini setiap penghujung seratus tahun seorang yang memperbaruhi agama mereka”(HR Abu Dawud:4291)

Menurut Imam Suyuthi para tokoh pembaharu (mujaddid/reformis) seperti yang dimaksud dalam hadits ini adalah:

1) Khalifah Umar bin Abdul Aziz ra sebagai mujaddid seratus tahun pertama
2) Imam Syafii ra (150 H-205 H) sebagai mujaddid abad kedua
3) Imam Ibnu Suraij& Al Asy’ari (260 H-324 H) sebagai mujaddid abad ketiga
4) Imam al Baqilani/Sahl/al Isfirayini sebagai mujaddid abad keempat
5) Imam Abu Hamid al Ghazali sebagai mujaddid abad kelima
6) Dan selanjutnya (yang tidak bisa disebutkan di sini satu persatu) serta janji Rasulullah shallallahu alaihi wasallam akan kelahiran gerakan tajdid secara kolektif dan berkesinambungan. Beliau bersabda:

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّي يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ

“Segolongan dari umatku senantiasa akan tampil sebagai pembela kebenaran. Orang-orang yang menghinakan tak akan bisa membahayakan mereka sampai datanglah urusan Allah”(HR Turmudzi:2330)

Secara khusus kehadiran Imam Al Asy’ari dan Al Maturidi di abad ketiga adalah jawaban dari Allah atas kemunculan kelompok menyimpang bernama al Muktazilah dan sekte-sekte yang lain yang menyerang umat Islam dari sisi paling vital yaitu Aqidah sebagai kaidah berfikir (Kaidah Fikriyyah); standar pemikiran yang selanjutnya sebagai alat pengukur siapa yang dianggap menyimpang dari jalan lurus yang telah digariskan oleh para pendahulu yang sholeh.

Pemikiran Imam al Asy’ari dan al Maturidi -yang tampil ke permukaan dan akhirnya bisa mematahkan serangan pemikiran-pemikiran kaum muktazilah dan sekte-sekte yang lain mendapatkan dukungan seluruh ulama kaum muslimin dari seluruh disipilin ilmu; baik para ahli tafsir, ahli hadits, ahli fiqih dan termasuk para ulama sufi. Jadi Imam al Asy’ari dan Al Maturidi serta seluruh ulama pendukung Beliau berdua adalah termasuk generasi yang dimaksud dalam sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُوْلُهُ يُنْفُوْنَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ الْغَالِيْنَ وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِيْنَ وَتَأْوِيْلَ الْجَاهِلِيْنَ

“Ilmu ini akan selalu dipikul oleh setiap orang adil dari seluruh generasi penerus (khalaf). Mereka akan menafikan darinya penyelewengan orang-orang yang bertindak ekstrim, pemutarbalikkan yang dilakukan para pelaku kebatilan dan ta’wilan orang-orang bodoh”HR Baihaqi.

Dukungan dan kesepakatan mayoritas ulama kepada Imam al Asy’ari dan Imam al Maturidi inilah yang kemudian memunculkan istilah Ahlussunnah wal Jamaah, sebuah istilah bagi pemikiran dan pemahaman yang dianut oleh sembilan puluh persen komunitas kaum muslimin (as Sawaad al A’zham) di seluruh dunia waktu itu hingga masa sekarang ini dan sudah barang tentu realitas ini termasuk dalam sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

إِنَّ اللهَ أَجَارَكُمْ مِنْ ثَلاَثِ خِلاَلٍ : أَنْ لاَ يَدْعُوَ عَلَيْكُمْ نَبِيُّكُمْ فَتَهْلِكُوْا جَمِيْعًا وَأَنْ لاَ يَظْهَرَ أَهْلُ الْبَاطِلِ عَلَى أَهْلِ الْحَقِّ وَأَنْ لاَ تَجْتَمِعُوْا عَلَى ضَلاَلَةٍ

“Sesungguhnya Allah menyelamatkan kalian dari tiga hal; nabi kalian tidak berdo’a atas kalian sehingga kalian seluruhnya bisa mengalami kehancuran, pembela kebatilan tak akan pernah bisa mengalahkan pembela kebaikan, dan kalian tidak akan bersepakat atas kesesatan”(HR Abu Dawud/4253 dari Abu Malik al Asy’ari).

Abuya As Sayyid Muhammad Alawi al Maliki al Hasani mengatakan:

[Banyak dari putera-putera kaum muslimin yang tidak mengerti hakikat madzhab al Asy’ari. Tidak mengerti siapa mereka yang termasuk bermadzhab al Asya’ari. Tidak mengerti thariqah al Asy’ari dalam Aqidah. Dan akhirnya sebagian dari mereka mengklaim sesat madzhab al Asy’ari dan menuduhnya telah keluar dari agama…
Kebodohan akan madzhab al Asy’ari menyebabkan terpecah belahnya persatuan ahlu sunnah sehingga sebagian orang bodoh memasukkan penganut al Asy’ari dalam daftar kelompok sesat. Aku sendiri tidak mengerti bagaimana bisa ahli iman disamakan dengan ahli kesesatan. Bagaimana mungkin seorang ahli sunnah disejajarkan dengan para ekstrimis syiah dan jahmiyyah, “Apakah kami akan menjadikan orang-orang islam sama halnya dengan para pendosa?”QS Al Qalam:35.
Para pengikut madzhab al Asy’ari adalah bendera petunjuk, para ulama kaum muslimin yang ilmunya memenuhi penjuru timur dan barat bumi dan seluruh manusia muslim telah sepakat akan keutamaan, ilmu dan agama mereka. Mereka adalah para tokoh ulama ahlu sunnah yang terdepan dalam melawan al muktzilah. Mereka adalah figur yang dikatakan oleh Imam Ibnu Taimiyyah:

الْعُلَمَاءُ أَنْصَارُ عُلُوْمِ الدِّيْنِ وَاْلأَشَاعِرَةُ أَنْصَارُ أُصُوْلِ الدِّيْنِ
“Ulama adalah para penolong ilmu-ilmu agama. Dan para pengikut al Asy’ari (al Asyaa’irah) adalah penolong dasar-dasar agama”. Mereka adalah kelompok ahli haditsm para ahli fiqih, ahli tafsir dll seperti halnya Imam Ahmad bin Hajar al Asqalani yang tak ada yang menyangkan adalah guru para ahli hadits, penulis kitab Fathul Baari Syarah Shohih Bukhari. Beliau bermadzhab al Asy’ari sementara tak ada alasan bagi seorangpun ulama untuk tidak menggunakan kitabnya sebagai rujukan.

Guru ulama ahlu sunnah Imam Nawawi, penulis syarah shahih Muslim dan kitab-kitab lain yang terkenal, juga seorang yang bermadzhab al Asy’ari.
Imam al Qurthubi, penulis tafsir al Jami’ li Ahkaamil Qur’aan, Syekh Ibnu Hajar al Haitami penulis kitab Az Zawaajir an Iqtiroofil Kabaa’ir,Syekh Zakariyya al Anshori guru Fiqih dan Hadits, Imam Abu Bakar al Baqilani, Imam al Qasthalani, Imam An Nasafi, Imam As Syarbini, Imam Abu Hayyan penulis tafsir al Bahr al Muhith dll, semua ulama ini bermadzhab al Asy’ari.

Jika demikian halnya apakah kita masih menuduh al Asyaa’irah sebagai kelompok sesat? sementara di lain pihak kita sangat membutuhkan ilmu-ilmu mereka. Bagaimana kita mengambil ilmu dari mereka yang tersesat?…] (Mafaahiim Yajibu An Tushahhah hal 119-120)

Sebagai mainstream (arus besar) keyakinan umat Islam, Ahlussunnah wal Jamaah tentu saja memiliki ciri khas yang sejalan dengan karakter Islam yaitu tawassuth, berdiri di antara dua kutub Ifrath/ekstrim dan Tafrith/teledor.

وَكَذَلِكَ جَعَلْـنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا
“Dan begitulah Kami Menjadikan kalian sebagai umat wasath, agar kalian menjadi saksi atas semua manusia dan Rasul (Nabi Muhammad SAW) menjadi saksi atas kalian”QS al Baqarah:143.

Ahlu sunnah wal jamaah inilah yang kemudian berfungsi sebagai sistem yang secara kontinyu bisa menjadi filterisasi yang efektif dan cukup akurat untuk menentukan arah jalan yang benar pada saat berada di persimpangan banyak jalan dan sekian banyak aliran pemikiran yang muncul dewasa ini. Inilah shirathal mustaqim yang dimaksud dalam firman Allah:

وَأَنَّ هذَا صِرَاطِيْ مُسْتَـقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُ وَلاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهِ…

“Dan sesungguhnya inilah jalanKu maka ikutilah oleh kalian. Jangan kalian mengikuti banyak jalan yang akhirnya menjadikan kalian terpisah dari jalanNya…”QS al An’aam:153.

Sebaliknya menjauh dari sikap tawassuth pasti akan memunculkan salah satu dari Ifrath atau tafrith. Khusus sikap Ifrath atau dalam bahasa lain Ghuluww, sikap inilah yang melatarbelakangi kemunculan fenomena terorisme, radikalisme dan fundamentalisme. Inilah akibat langsung dari sistem tabanni (doktrin), bukan tatsqiif. Ya, sistem doktrin memang hanya akan menghasilkan kedangkalan tsaqofah, wawasan tentang agama dalam wujud pengetahuan tentang agama yang sempit atau belajar tanpa adanya guru pembimbing. As Sayyid Alawi al Maliki mengatakan: [Sesungguhnya pencari ilmu; semakin luas cakrawala berfikirnya dan dalam pengetahuan agamanya maka semakin sedikit mengingkari masalah-masalah dan topik-topik aktual yang masih termasuk dalam wilayah perbedaan pendapat para pemikir] (al Ghuluww hal 46).

Selain itu sikap Ifrath juga memunculkan sekian banyak performa dan di antaranya yang terpenting adalah: 1)Tasyannuj atau eksklusif. 2) Ittibaul Hawaa. 3) al Inad dan 4) Sikap Fanatik dalam Pendapat. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

…حَتَّي إِذَا رَأَيْتَ شُحًّا مُطَاعًا وَهَوًي مُتَّبَعًا وَدُنْيَا مُؤْثَرَةً وَإِعْجَابَ كُلِّ ذِيْ رَأْيٍ بِرَأْيِهِ فَعَلَيْكَ بِنَفْسِكَ …

“…Jika kamu menyaksikan kikir yang diikuti, hawa nafsu yang dituruti, dunia yang dipilih dan rasa bangga pemilik pendapat dengan pendapatnya maka jagalah dirimu!…”(HR Abu Dawud dari Abu Tsa’labah: 4341).

Dampak lanjutan dari performa-performa semacam di atas adalah sikap antipati dan caci maki yang diarahkan kepada generasi sholeh salaf terdahulu yang telah begitu berjasa menjaga kemurnian islam seperti Imam al Asya’ari sendiri serta para ulama pendukungnya sebagaimana Imam al Ghazali, Imam Nawawi dan Ibnu Hajar al Asqalani. Bahkan Imam Abu Hanifah dan para pengikutnya pun juga tidak selamat dari caci maki dan antipati. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

…وَلَعَنَ آخِرُ هَذِهِ اْلأُمَّة أَوَّلَهَا…
“…….dan generasi akhir umat ini melaknat generasi pertamanya….”(HR Turmudzi:2307)
.
Betapapun terorisme, radikalisme dan fundamentalisme di luar prinsip ajaran Islam bukan berarti Islam membiarkan pemeluknya pasif dan tidak peduli ketika menyaksikan ada kemungkaran. Sungguh sikap cemburu dan tegas terhadap kemungkaran adalah sesuatu yang terpuji dan menjadi pertanda nyala iman yang membara di dalam dada. Dalam sebuah hadits disebutkan:

الْمُؤْمِنُ يَغَارُ وَاللهُ أَشَدُّ غَيْرًا
“Seorang mukmin itu selalu cemburu. Dan Allah lebih cemburu”(HR Muslim dari Abu Hurairah ra/ lihat al Jami’ As Shaghir:9148

الْحِدَّةُ تَعْتَرِي خِيَارَ أُمَّتِي
“Sikap keras&tegas selalu datang (dimiliki) oleh orang-orang pilihan umatku”(HR Thabarani dari Ibnu Abbas ra/lihat al Jami’ As Shaghir:3807).

Sebagai contoh adalah Abu Musa al Asy’ari ra. Ia terlebih dahulu diutus Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ke Yaman. Selanjutnya Mu’adz ra pun menyusul. Sesampai di Yaman, Muadz disambut dengan hangat oleh Abu Musa. “Turunlah (dari kendaraanmu!)” seraya melemparkan bantal kepada Muadz. Ternyata di samping Abu Musa ada seorang lelaki yang sedang diikat. Muadz yang masih di atas kendaraan bertanya: “Siapa lelaki ini?” Abu Musa menjelaskan: “Ia seorang yahudi yang masuk islam tetapi kemudian kembali kepada agamanya, agama yang buruk” mendengar hal ini Muadz dengan tegas mengatakan: “Aku tidak akan turun sebelum lelaki ini dibunuh. Ini adalah keputusan Allah keputusan RasulNya” Abu Musa berkata: “Turunlah!ia, dia akan segera dibunuh” Muadz tetap tidak mau turun meski Abu Musa telah memintanya tiga kali sehingga Abu Musa pun mengalah dan segera lelaki itu dieksekusi. Setelah itu barulah Muadz mau turun dari hewan kendaraannya.(Lihat Sunan Abu Dawud:4354)

Selain serangan Aqidah, umat islam juga diuji dengan adanya perpecahan dan pertikaian yang tidak kunjung ditemukan benang merahnya sejak generasi awal umat sampai hari ini.Inilah yang memiliki efek besar pada kelemahan umat dalam menghadapi tantangan zaman.Allah berfirman:

…وَلاَ تَنَازَعُوْا فَتَفْشَلُوْا وَتَذْهَبَ رِيْحُكُمْ….
“…dan janganlah kalian saling berselisih sehingga kalian menjadi lemah dan kehilangan wibawa…”QS Al Anfaal : 46. .

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ إِبْلِيْسَ قَدْ يَئِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّوْنَ وَلكِنْ فِى التَّحْرِيْشِ بَيْنَهُمْ
“Sesungguhnya setan telah berputus asa memperbudak orang-orang yang shalat. Akan tetapi (ia masih berharap) membenturkan di antara mereka”(HR Muslim:2116. Turmudzi abwaabul birri 4/330)
=والله يتولى الجميع برعايته

Categories: Taushiah Abina
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: