Home > Religi Islam > Berjuang Bersama Kaum Dluafa dan Mustadl’afin

Berjuang Bersama Kaum Dluafa dan Mustadl’afin

Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu negeri-negeri bahagian timur bumi dan bahagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah janji Tuhanmu yang luhur atas Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya, serta apa yang telah mereka bangun. QS Al A’raaf:137

Paska wafatnya Nabi Yusuf as, Fir’aun menguasai Bani Israil sekaligus menjajahnya. Mereka mengalami keseng-saraan yang luar biasa di bawah penjajahan penguasa bangsa Egyp ini. Mereka disiksa dan dituntut kerja rodi (paksa) pada pekerjaan yang sangat berat seperti membuat bata, memindahkan tanah, membikin bangunan megah, dsb. Itu dialami selama empat ratus tahun. Sementara jaminan keamanan bagi mereka hampir tidak ada. Anak-anak laki-laki mereka dibunuhi. Tinggal perempuan-perempuan yang lemah-lemah. Mereka baru merdeka, mendapatkan kebebasan, setelah diselamatkan oleh Nabi Musa as. Itu pun dengan jerih payah dan kesusahan yang luar biasa.
Dengan dihancurkannya Fir’aun, Bani Israil dipimpin oleh Nabi Musa as berikutnya dapat menguasai kembali negeri Mesir dan Syam serta negeri-negeri sekitar keduanya sebagai warisan. Atas kesabaran di dalam turut serta berjuang bersama dai pembawa kebenaran, negeri tempat tinggal mereka kini diliputi keberkahan. Tanah subur, hasil panen bagus, hujan memadai, dan berbagai keberkahan lainnya. Ini semua merupakan kebenaran janji Alloh swt yang disampaikan oleh Nabi Musa as pada masa-masa perjuangan dahulu.
قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ اسْتَعِينُوا بِاللهِ وَاصْبِرُوا اِنَّ اْلاَرْضَ لِلّهِ يُورِثُهَا مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
Musa berkata kepada kaumnya: “Mohonlah pertolongan kepada Alloh dan bersabarlah; sesungguhnya bumi ini kepunyaan Alloh; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Al A’raaf: 128)
Sementara Fir’aun berikut Qarun, Haman dan bangsa Egyp yang superior (merasa lebih tinggi, lebih mampu, lebih berkuasa) tenggelam. Istana, monumen, dan bangunan-bangunan berarsitektur tinggi mereka juga hancur lebur. Berikutnya tubuh Fir’aun dan sedikit bangunan megah itu disisakan agar menjadi tanda-tanda kebesaran bagi umat manusia belakangan ini.
Peristiwa yang dipotret oleh ayat ini memberikan sekian pelajaran. Salah satunya bahwa perjuangan hendaknya selalu dimulai dari bawah secara tekun dan telaten. Perjuangan mengemban kebenaran awal mulanya selalu diikuti massa yang justru lemah segala-galanya. Sebagian mereka barangkali lemah secara struktural karena penindasan dan tindak ketidakadilan kekuasaan (mustadl’afin). Sebagian lagi lemah secara kultural seperti kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan (dluafa). Ini adalah sunnatullah perjuangan seperti dialami oleh Nabi Musa as. Pengikutnya adalah kalangan buruh (budak), sementara kalangan elite menyombongkan diri dan menentangnya. Alloh swt berfirman:
فَقَالُوا اَنُؤْمِنُ لِبَشَرَيْنِ مِثْلِنَا وَقَوْمُهُمَا لَنَا عَابِدُونَ
Dan mereka berkata: “Apakah layak kita percaya kepada dua orang manusia (Nabi Musa dan Harun as) seperti kita juga, padahal kaum mereka (Bani Israil) adalah orang-orang yang menghambakan diri kepada kita?” (QS Al Mu’minun: 47)

Seperti halnya proses perjuangan Nabi Musa as, proses perjuangan Rasululloh saw tak lebih juga demikian. Pada awal-awal dakwahnya, pengikut setia beliau sebagian besar adalah kalangan fakir miskin, orang-orang lemah, dan budak. Misalnya Zaid bin Haritsah, Bilal bin Rabah, dan Ammar bin Yasir. Bukan Abu Jahal, Abu Lahab, dan Abu Sufyan yang merupakan tokoh-tokoh besar dan kalangan elite saat itu.
Seperti halnya Nabi Musa as dan Rasululloh saw, Nabi-Nabi lainnya pun demikian. Nabi Nuh umpamanya, dalam kurun dakwah selama 950 tahun, pengikut setia beliau adalah orang-orang rendahan dan bodoh. Alloh swt berfirman:
فَقَالَ الْمَلاَُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ اِلاَّ بَشَرًا مِثْلَنَا وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ اِلاَّ الَّذِينَ هُمْ اَرَاذِلُنَا بَادِي الرَّأْيِ
Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: “Kami tidak melihat kamu, melainkan seorang manusia seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina dan bodoh (tidak cerdas pendapatnya).” (QS Huud: 27. Telaah pula QS Al A’raaf: 75-76)

Sunnatulloh ini hikmahnya barangkali perjuangan risalah kebenaran pada dasarnya memiliki misi mengeluarkan keterkungkungan manusia dari kekuasaan sesamanya kepada kekuasaan dan undang-undang Alloh swt semata. Dan ini momentum yang baik bagi seluruh ummat manusia, lebih-lebih orang-orang lemah, karena antara mereka dengan kebenaran tidak ada penghalang berarti. Sementara kalangan elite enggan menerimanya disebabkan terlebih dahulu tumbuh tendensi dan sentimen yang menghalangi, misalnya ego dan arogansi, karier, pengaruh, dan jabatan.
Perjuangan disambut pertama kali oleh kalangan dluafa dan mustadl’afin sebenarnya bukanlah cela. Justru bisa jadi ini sebagai faktor keunggulan. Orang-orang lemah itu pada umumnya loyalitasnya tinggi, tekad dan semangatnya luar biasa, lugu-lugu menerima kebenaran, berani-berani, dan sabar-sabar. Sementara sukses dan berhasilnya perjuangan, lebih banyak ditentukan dari sini. Kesabaran, ketekunan, ketelatenan, dukungan maksimal, dan kerja walaupun sedikit yang kontinu, di samping teguh pendirian dan tak kenal menyerah. Kaum musyrikin pernah memberi saran kepada Rasululloh saw untuk mengusir sahabat Saad bin Abi Waqqash, Abdullah bin Mas’ud, Bilal, Abu Bakar, dan Ali bin Abi Thalib, yang katakanlah orang-orang lemah, namun idealismenya luar biasa. “Wahai Muhammad! Usirlah orang-orang itu. Mereka berani-beraninya sama kami,” katanya. Lalu turunlah QS Al An’am: 52.
Pada sisi yang lain, munculnya kalangan dluafa dan mustadl’afin mendukung perjuangan di depan merupakan pemicu keberkahan. Doa mereka sungguh-sungguh. Kesabaran mereka menjamin. Kondisi mereka yang tertindas dan terdzalimi diperhatikan sama Alloh swt. Sementara keberkahan adalah modal dasar perjuangan yang tidak bisa disepelekan. Rasululloh saw pernah menegur Saad bin Abi Waqqash karena menganggap rendah kawan-kawannya yang lemah. Beliau lalu bersabda:
وَهَلْ تُنْصَرُوْنَ وَتُرْزَقُوْنَ إِلاَّ بِضُعَفَاءِ كُمْ
Bukankah kamu ditolong dan diberikan rizki melainkan sebab orang-orang lemahmu? (HR Bukhari)

Atas dasar ini, perjuangan bersama kawula-kawula alit hendaknya dilakoni dengan sabar. Bahkan harus begitu. Kalau bisa malah, mencari kawula-kawula alit seperti anak-anak yatim, fakir miskin, dan kalangan terlantar untuk kemudian diangkat dan dientaskan. Merawat, membina, dan mendidiknya hingga menjadi kader yang baik merupakan perbuatan mulia. Siapa tahu, mereka lemah dan hina-dina dalam pandangan manusia, padahal agung dan mulia dalam pandangan Alloh swt. Alloh swt berfirman:
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ
Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridlaan-Nya. (QS Al Kahfi: 28)

Perjuangan tidak semuanya harus cenderung elitis. Karena elitisme dengan mengabaikan kalangan lemah kadangkala tak ubahnya menaiki tangga dengan meloncat, menjadi bumerang (blunder) baginya. Hancur sebelum waktunya. Apalagi cara ini tidak didapati dalam sejarah dakwah kenabian. Dalam pepatah dikatakan:
مَنْ تَعَجَّلَ قَبْلَ أَوَانِهِ عُوْقِبَ بِحِرْمَانِهِ
Barangsiapa bersesegera sebelum waktunya, dia akan diberi sanksi dengan kegagalan.

Pada akhirnya, suatu saat, kalangan dluafa dan mustadl’afin dengan kesabarannya akan menuai keberkahan sebagaimana dialami oleh Bani Israil bersama Nabi Musa as. Maka, berbahagialah tokoh-tokoh pejuang muslim yang tidak mengabaikan peran mereka. Dalam sejarah Islam, dinasti Mamluk (Mamalik) yang didirikan para budak pernah berjaya di pentas dunia (1250-1517 M) di bawah pimpinan Sultan Qalawun dan Sultan Baybars. Dan untuk saat ini, kondisi kaum muslimin tampak tak ubahnya kalangan dluafa dan mustadl’afin. Suatu saat keberkahan (menguasai bumi, menjadi penguasa, dan mewarisi bumi) akan menyertai mereka, asal bersabar dalam perjuangan. Alloh swt dalam suatu janji yang mulia berfirman:
وَنُرِيدُ اَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي اْلاَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ اَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمْ الْوَارِثِينَ
Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi bumi. (QS Al Qashas: 5).

Categories: Religi Islam
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: