Home > Religi Islam > Manfaat Kesholehan Anak & Orang Tua

Manfaat Kesholehan Anak & Orang Tua

Keshalehan anak sangat bermanfaat bagi orang tua, “Jika anak Adam meninggal maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang senantiasa berdo’a untuknya” HR Muslim, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam juga bersabda:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِى الْجَنَّةِ فَيَقُوْلُ : يَا رَبِّى أَنَّى لِي هَذِهِ ؟ فَيَقُوْلُ : بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

“Sesungguhnya Allah pasti Mangangkat derajat seorang hamba shaleh di surga hingga ia bertanya, “ Ya Tuhan, kenapa saya mendapatkan ini semua?” Allah Berfirman, “ Ini adalah sebab Istighfar anakmu untukmu” HR Ahmad.

Jika keshalehan anak bermanfaat bagi orang tua maka sebaliknya juga demikian. Keshalehan orang tua bisa dirasakan oleh anak-anak semenjak di dunia. Manfaat tersebut antara lain:

a) Penjagaan dari Allah. “…kemudian kedua mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Hidhir menegakkan dinding itu…”QS al Kahfi: 77, “Dan adapun dinding rumah itu adalah milik dua orang anak yatim di kota itu dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua. Sedang ayah mereka adalah seorang yang shaleh…”QS al Kahfi: 82. Allah Mengutus Hidhir untuk menegakkan kembali dinding yang hendak roboh milik dua anak yatim yang dulunya ayah mereka adalah seorang yang shaleh. Ini menunjukkan bahwa Allah pasti menjaga anak keturunan orang yang shaleh. Muhammad bin al Munkadir berkata:
إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَحْفَظُ الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ فِى وَلَدِهِ وَفِى وَلَدِ وَلَدِهِ وَيَحْفَظُهُ فِى دُوَيْرَتِهِ وَفِى دُوَيْرَاتٍ حَوْلَهُ …
“Sesungguhnya Allah Maha Mulia senantiasa menjaga anak dan cucu hambaNya yang beriman, Menjaga rumahnya dan rumah–rumah sekitarnya…” (Haakadzaa Tahaddatsas Salaf / 124)

Rubayyi binti Mu’awwidz berkisah: Saat aku sedang duduk bersantai, tiba–tiba atap rumah terbuka dan turunlah makhluk sangat hitam sebesar himar mirip dengan unta. Makhluk menyeramkan itu lalu mendekat kepadaku. Saat itulah secarik kertas jatuh di hadapannya. Ia lalu membaca tulisan yang berbunyi, ”Dari Tuhan Ukab untuk Ukab: Ammaa Ba’du, tidak ada jalan bagimu untuk mengganggu wanita shalehah puteri orang–orang shaleh” seketika, makhluk itu menjauh dan lalu meninggalkanku. Dalam kisah ini Rubayyi’ mendapat penjagaan sebagai berkah dari keshalehan ayahandanya yang gugur dalam perang Badar.(Aakaamul Marjaan / 74)
b) Kesejehateraan . Menjelang wafat dikatakan, “Sungguh anda sama sekali tidak memberikan warisan harta benda kepada anak–anak anda. Anda tinggalkan mereka semua dalam keadaan miskin?” mendengar ini, khalifah Umar bin Abdul Aziz meminta dipanggilkan seluruh anak lelakinya yang berjumlah sepuluh dan rata–rata masih belum baligh. Melihat anak–anaknya, air mata Umar menetes. Ia lalu berpesan, “Wahai anak-anakku, demi Allah aku tidak pernah menghalangi hak kalian. Aku juga tidak akan pernah mengambil harta benda milik kaum muslimin lalu memberikannya kepada kalian. Kalian hanyalah salah satu dari dua orang; orang sholeh yang berarti Alloh pasti menjaga kalian. Atau tidak shaleh, maka aku tak akan meninggalkan harta benda untuk dijadikan sarana bermaksiat kepada Alloh” sampai di sini Umar meminta agar anak–anak meninggalkannya. Kelak di kemudian hari, anak– anak Umar bin Abdul Aziz yang hanya mendapat warisan tidak lebih dari dua puluh dirham akhirnya menjadi orang–orang kaya raya hingga disebutkan bahwa salah satu di antara mereka ada yang mampu memberikan seratus ekor kuda untuk keperluan berperang di jalan Alloh. Sebaliknya anak– anak Abdul Malik bin Marwan yang banyak sekali mendapat warisan dari orang tua mereka akhirnya menjadi orang yang hanya hidup pas–pasan dan bahkan kekurangan hingga membuat mereka harus meminta ke sana kemari.

Sementara kelak di akhirat, keshalehan orang tua kembali bisa dirasakan oleh anak saat dipersilahkan menempati derajat tinggi bersama orang tua meski semestinya amal anak tidak berhak memabawanya menempati derajat tersebut. Ini terjadi karena Allah berkehendak menyempurnakan nikmat kepada hambaNya. Dia berfirman:

وَالَّذِيْنَ آمَنُوْا وَاتَّبَعَتْـهُمْ ذُرِّيَّـتَهُمْ بِإِيْمَانٍ أَلْحَقْـنَا بِهِمْ ذُرِّيَـتَهُمْ وَمَآأَلَتْـنَاهُمْ مِّنْ عَمَلِهِمْ مِّنْ شَيْءٍ…
“Dan orang–orang yang beriman, dan yang anak–anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada sedikitpun mengurangi dari pahala amal mereka…” QS at Thuur: 21

Pelajaran lain yang bisa dipetik dari ayat ini, yakni keberadaan Syafa’at yang hanya diperuntukkan bagi orang yang beriman. Abu Hurairah ra bertanya, “Siapakah orang paling beruntung yang mendapat Syafaat engkau kelak di hari kiamat?” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab, “….orang paling beruntung yang mendapat Syafaatku pada hari kiamat adalah orang yang membaca Laa ilaaha illalloh dengan tulus dari sanubarinya” HR Bukhari. Dan salah satu bentuk Syafaat tersebut adalah kenaikan Derajat di surga serta bahwa yang memberi Syafaat selain para nabi adalah para wali, syuhada’ dan orang–orang shaleh. Satu lagi yang tersirat dari ayat ini bahwa anak keturunan tidak akan bisa melakukan amal ibadah sebaik dan sebanyak orang tua dan para pendahulu, kendati demikian anak keturunan bisa bersama dalam satu derajat dengan para pendahulu asalkan anak keturunan mampu tetap berjalan dalam keimanan yang sama dengan para pendahulu. Walllahu A’lam.

Categories: Religi Islam
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: