Home > Mafahim > MENCACI MUSLIM ITU SUATU KEFASIKAN, MEMBUNUHNYA ADALAH SUATU KEKUFURAN Bag. Ke 2

MENCACI MUSLIM ITU SUATU KEFASIKAN, MEMBUNUHNYA ADALAH SUATU KEKUFURAN Bag. Ke 2

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa ketika Kholid bin Walid sampai pada kaum Judzaimah, mereka menyambutnya dengan baik. Lalu, Kholid berkata : “Bagaimanakah kalian? Sudah muslim atau masih kafir?” mereka menjawab : “Kami adalah muslimin. Kamipun telah biasa mendirikan sholat, membenarkan kenabian Nabi Muhammad saw. Kami juga telah membangun beberapa masjid dihalaman rumah kami, dan kami biasa mendengungkan adzan didalamnya.” Mereka tidak mengatakan : “Aslamnaa; “kami telah masuk islam” atau ” kami telah menyerah”, tetapi : “Shaba’na, shoba’na” “Kami menyerah, kami menyerah”. Kemudian, Kholid bin Walid berkata kepada mereka : “Mengapa kalian masih menyandang pedang?” mereka menjawab : “Sesungguhnya diantara kami dan sebagian orang-orang arab ada permusuhan. Kami takut, jangan-jangan kalian seperti mereka itu. Maka kamipun tetap menyandang pedang.” Kholid bin Walid berkata : “(Sekarang) simpanlah pedang kalian!” mereka akhirnya meletakkan pedangnya. Kemudian Kholid bin Walid berkata pada perajuritnya : “Tawanlah mereka.” Dia perintahkan sebagiannya untuk ditawan, sedangkan yang lainnya tidak dijadikan tawanan, lalu digabungkan dengan sahabat-sahabat Kholid bin Walid. Ketika waktu Sahur tiba, terdengar seorang – atas perintah Kholid bin Walid – berseru : “Siapa yang padanya terdapat tawanan, hendaklah dia membunuhnya.” Bani Sulaim pun membunuh tawanannya, sedangkan orang-orang Anshor dan Muhajirin tidak mau melakukannya bahkan mereka melepaskannya. Ketika berita mengenai perlakuan Kholid bin Walid – terhadap tawanannya – sampai kepada Rasulullah saw, beliau bersabda :
اللهم إني أبرأ إليك مما صنع خالد ، قال ذلك مرتين
” Ya Allah aku mohon dibebaskan dari apa yang diperbuat Kholid.” Beliau mengucapkannya dua kali.
Ada yang mengatakan bahwa dalam pemahaman Kholid bin Walid, mereka – kaum Judzaimah – menyatakan pernyataan masuk islam itu dengan kata Shaba’na… shaba’na hanya karena terdesak dan mereka sebetulnya tidak akan menaati ajakan untuk masuk islam. Namun, Rosulullah saw tidak menyetujui perbuatan Kholid itu karena tergesa-gesa dan tidak berhati-hati dalam menghadapi mereka sebelum dia sendiri paham betul kata shaba’na. Rasulullah sendiri berkata : “Sebaik-baik abdi Allah adalah Akhuu Al ‘asyiirah, Kholid bin Walid. Dia salah seorang (salah satu) pedang Allah yang terhunus untuk menghadapi orang-orang munafiq dan kafir.”
(Ust. Kamal Muhlis)

Categories: Mafahim
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: