Home > Religi Islam > Tabarruk dari Sisa & Bekas Orang Sholeh

Tabarruk dari Sisa & Bekas Orang Sholeh

Mencari, berharap dan ingin mendapatkan Berkah dari orang sholeh adalah hal yang diperbolehkan, dibenarkan dan memiliki sugesti dari dalil yang sangat banyak dan kuat. Sungguh para sahabat radhiyallahu anhum sangat serius dalam mencari dan mendapatkan Berkah dari bekas dan sisa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Mereka rela berdesakan demi mendapatkan tetesan air bekas wudhu Beliau shallallahu alaihi wasallam. Mereka juga dengan sabar menanti dan mengelilingi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang sedang potong rambut hingga tiada satupun rambut Beliau yang lepas kecuali jatuh di atas tangan mereka. Disebutkan bahwa ada beberapa helai rambut Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang terdapat di dalam topi (Qolansuwah) Khalid bin Walid ra dan senantiasa dibawa dalam peperangan. Ummu Salamah ra juga demikian, setiap kali ada orang sakit maka ia seringkali dimintai pertolongan. Ia kemudian mencelup beberapa helai rambut Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di suatu bejana lalu memerintahkan agar air tersebut diminumkan kepada orang yang sakit. Abu Ayyub al Anshari ra pernah mengambil beberapa helai Lihyah (jenggot) Nabi shallallahu alaihi wasallam dan Beliau lalu bersabda yang artinya, “Wahai Abu Ayyub, kamu tak akan tertimpa keburukan” Tsabit al Bunani bercerita: (Anas bin Malik ra pernah berwasiat, “Ini adalah sehelai rambut Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka taruhlah di bawah lisan (kelak aku dikuburkan nanti! “) Tsabit melanjutkan: “Aku pun menaruh sehelai rambut itu di bawah lisannya” Muawiyah bin Abi Sufyan ra juga menyimpan rambut dan potongan kuku Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Ketika hendak meninggal maka Beliau berwasiat supaya rambut dan kuku tersebut ditaruh di atas kedua mata dan lisannya” HR Ahmad.

Kuatnya harapan dan keinginan mendapat berkah dari bekas Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membuat Sahl bin Sa’ad ra harus rela menerima cecaran para sahabat lain yang bereaksi begitu keras melihat Sahl meminta surban yang dipakai oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Menjawab cecaran ini Sahl mengatakan, “Aku meminta surban ini agar kelak bisa menjadi kafanku ” Muttafaq alaih. Salah satu kisah yang terjadi sewaktu perjanjian Hudaibiyyah bahkan menceritakan saat itu setiap kali Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berdahak maka mesti dahak itu jatuh di tangan salah seorang sahabat dan lalu melumurkannya di sekujur tubuhnya. Hal semacam ini disaksikan sendiri oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam dan Beliau diam yang berarti membenarkan. Ummu Sulem ra bahkan pernah mengumpulkan keringat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang menetes di atas alas kulit ( Nitho’) lalu menjadikannya sebagai parfum. Asma’ binti Abu Bakar ra bercerita, “Ini adalah Jubbah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Sebelumnya ia ada pada Aisyah ra dan setelah ia meninggal aku mengambilnya dan membasuhnya ketika ada orang sakit dengan harapan beroleh kesembuhan” HR Muslim.

Para sahabat juga sangat senang bila meminum air dari bejana yang pernah dipakai oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Abdullah bin Salam misalnya, saat Abu Burdah datang berkunjung maka segera memberikan penawaran ,”Apakah anda ingin aku memberikan minum dengan bejana yang pernah dipakai oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam?” Anas bin Malik ra yang juga memiliki bejana bekas Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahkan dengan bangga bercerita, “Aku telah memberi minum banyak orang dengan bejana ini”. Dalam Mukhtashor Bukhari milik Imam al Qurthubi disebutkan sebuat teks lama yang berbunyi, “Aku ( Imam Bukhari ) pernah melihat bejana ini di Bashroh dan sempat pula meminum darinya” disebutkan bahwa bejana tersebut didapat dan dibeli dari warisan Nadhr bin Anas ra dengan harga delapan ratus ribu dirham. Sungguh bejana tersebut tersimpan di kalangan sahabat serta Tabiin dan ternyata tiada seorangpun dari mereka yang mengingkari hal tersebut.

Para sahabat juga senantiasa meneliti tempat–tempat yang pernah disinggahi oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam seperti halnya Ibnu Umar ra yang terus berusaha meneliti masjid yang pernah dipakai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk kemudian shalat di tempat di mana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam shlat di tempat itu. Pernah suatu ketika Ibnu Umar datang di salah satu desa suku Bani Muawiyah dari golongan Anshor. Beliau bertanya, “Apakah kalian mengetahui di mana tempat di masjid ini yang pernah dipakai oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melakukan shalat?” salah seorang kemudian menunjukkan tempat yang ditanyakan. Ibnu Umar ra yang berhaji setiap tahun maka pada waktu Wuquf mesti duduk di tempat yang pernah ditempati oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Para sahabat juga seringkali meminta Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk shalat di rumah mereka. Itban bin Malik yang ketika itu pandangan matanya sudah melemah segera meminta agar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang kebetulan datang berkunjung supaya shalat di salah satu pojok rumah agar kemudian pojok tersebut bisa dijadikan tempat shalat ( Mushalla) untuknya.

Kisah–kisah di atas dengan begitu jelas menunjukkan betapa para sahabat sangat mencintai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan salah satu wujud kecintaan itu adalah dengan berusaha mendapatkan sisa dan bekas manusia yang dicintainya. Tidak hanya sampai di situ, disebutkan bahwa Ummu Aiman bahkan penah meminum urine Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan Salim yang sedang mencanduk bahkan tidak membuang tetapi meminum darah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam . Ini adalah cinta yang melebihi segala cinta, sebuah cinta yang tidak bisa disamai oleh cinta yang lain. Inilah kecintaan para sahabat yang agung kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Inilah cinta seorang santri kepada guru pendidik jiwa. Selain wujud cinta, seperti dimengerti, bahwa aktivitas tersebut adalah usaha pencarian suatu yang sangat penting yang dinamakan dengan Berkah. Jika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam saja ingin meminum dari air sisa wudhu orang banyak, jika Beliau shallallahu alaihi wasallam dalam salah satu Hadits menuturkan secara umum bahwa jilatan seorang yang beriman adalah Berkah maka apalagi jika itu bekas jilatan seorang mukmin yang shaleh.

Sebagian Ahli Makrifat menyatakan, “Hikmah mengambil Berkah dari bekas dan tempat serta segala sesuatu yang berhubungan dengan orang shaleh adalah bahwa tempat mereka sambung dengan pakaian. Pakaian membungkus tubuh. Tubuh memuat hati. Sementara hati mereka sambung menghadap kepada Allah. Maka ketika Dia meluberkan limpahan–limpahan ketuhanan (Fuyuudhoot Robbaaniyya) maka sudah pasti Berkah dari itu akan meluber dan sambung kepada segala hal yang berhubungan dan berdekatan” Inilah gambaran firman Allah:
…فَقَبَضْتُ قَبْضَةً مِّنْ أَثَرِ الرَّسُوْلِ …
“…maka aku (Samiri) mengambil segenggam dari jejak Rasul…”QS Thaha: 96.

Maksud “jejak rasul” itu ialah jejak telapak kaki kuda Jibril a.s. Artinya Samiri mengambil segumpal tanah dari jejak itu lalu dilemparkannya ke dalam logam yang sedang dihancurkan sehingga logam itu berbentuk anak sapi yang mengeluarkan suara. Wallahu A’lam.

Categories: Religi Islam
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: